Kefakiran dan Kebakhilan
Manusia bisa jadi sampai pada titik di mana ia menganggap kefakiran dan kebakhilan adalah jalan yang benar, sedangkan beriman dan dermawan

Tentang Kefakiran dan Kebakhilan

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلا فِي ضَلالٍ

“Dan apabila dikatakakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,” orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki Dia akan memberinya makan, kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.

Manusia bisa jadi sampai pada titik di mana ia menganggap kefakiran dan kebakhilan adalah jalan yang benar, sedangkan beriman dan dermawan adalah sifat yang menyimpang. Baca : Belajar Dari Putri Kesayangan Rasul SAW

Ayat ini merujuk pada penolakan keras kepalanya kaum musyrik, namun hal itu tidak terbatas pada mereka saja, bisa jadi kita pun memiliki sifat yang sama.

Allah menguji seseorang dengan kemiskinan dan menguji yang lain dengan kekayaan. Baca: Imam Muhammad Al-Jawad, Teladan Kedermawanan Sejati

Adakalanya Dia menguji seseorang dengan kemiskinan dan kekayaan dalam masa yang berbeda.

Dia menguji manusia apakah manusia itu dermawan, berjiwa besar dan pandai bersyukur, ataukah justru melalaikan semua itu, dan apabila manusia itu kaya, apakah ia akan membelanjakan kekayaannya itu di jalan Allah atau tidak.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *