Breaking News
Syiah dalam Lisan Rasulullah Saw
Syiah dalam Lisan Rasulullah Saw Kalau ditelusuri sejarah kemunculan Syiah, seorang peneliti dan pencari fair dapat menemukannya pada masa Rasulullah Saw.

Syiah dalam Lisan Rasulullah Saw

Syiah dalam Lisan Rasulullah Saw

Kalau ingin ditelusuri sejarah kemunculan Syiah, seorang peneliti dan pencari fair dapat menemukannya pada masa Rasulullah Saw.

Dari banyak riwayat yang terang menjelaskan bahwa redaksi “Syiah” telah tersebar semenjak masa Rasulullah dan beliaulah yang menyebarkan istilah ini.

Di samping riwayat-riwayat yang terdapat pada referensi-referensi mazhab Syiah, juga terdapat pada referensi-referensi mazhab Sunni dimana ayat “Ulaika humul Bariyyah (Qs. Al-Bayyinah [97]:7) yang ditafsirkan oleh Rasulullah Saw untuk Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya (Syiah).

Misalnya Hakim Naisyaburi salah seorang alim terkenal Sunni yang hidup pada abad kelima Hijriah menukil riwayat-riwayat ini dalam kitabnya yang terkenal “Syawâhid at-Tanzil” dengan sanad yang beragam dan kurang lebih dari dua puluh riwayat dimana beberapa dari riwayat tersebut sebagai contoh akan disebutkan di sini.

  1. Ibnu Abbas berkata: “Tatkala ayat “Innaladzina A^manû wa ‘Amilûshalihât Ulaika hum Khairul Bariyyah” (Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shaleh mereka adalah sebaik-baik mahkluk) turun, Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ali: Huwa Anta wa Syia’tuka. Ta’ti Anta wa Syiahtuka Yaumal Qiyâmah Râdhiin wa Mardhiyyîn wa Ya’ti ‘Aduwwuka Ghadbânan Muqhamîn.” (Maksud dari ayat ini adalah dirimu dan Syiahmu yang pada hari Kiamat akan memasuki padang Masyhar dalam keadaan ridha dan diridhai oleh Tuhan. Sementara musuhmu dalam keadaan murka dan dimurkai.” (Syawahid at-Tanzil, jil. 2, hal. 357.)
  2. Dalam hadis yang lain yang bersumber dari Abu Barzah dimana ketika Rasulullah Saw membacakan ayat ini, beliau bersabda: “Mereka (Khairul Bariyyah itu) adalah engkau dan Syiahmu wahai Ali, dan perjanjianku dan dirimu di samping telaga Kautsar. (Idem)
  3. Dari hadis yang lain dari Jabir bin Abdullah Anshari disebutkan bahwa kami duduk di samping Ka’bah bersama Rasulullah Saw dan ‘Ali datang menuju ke arah kami, tatkala Rasulullah Saw menoleh kepadanya, beliau bersabda: “Qad Atakum Akhi.” (Telah datang saudaraku kepada kalian). Lalu Rasulullah Saw menghadap ke arah Ka’bah dan bersabda: “Wa Rabba Hadzi al-Baniyyah, Inna Hadza wa Syia’atahu Humul Faizun Yaumal Qiyamah..(Demi Tuhan Ka’bah, Aku bersumpah sesungguhnya orang ini (‘Ali) dan Syiahnya adalah orang-orang yang berjaya pada hari Kiamat).” (Idem, Ibnu Hajar, Shawâiqul Muhriqah, hal. 96, dan Muhammad Syablanji, Nurul Abshar, hal. 70 dan 101)
  4. Dalam kitab ad-Durrul Mantsur dinukil dari Ibnu Abbas bahwa sewaktu ayat “Innaladzina A^manû wa ‘Amilûshalihât Ulaika hum Khairul Bariyyah” (Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shaleh mereka adalah sebaik-baik mahkluk) turun, Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ali: : Huwa Anta wa Syia’tuka. Ta’ti Anta wa Syiahtuka Yaumul Qiyâmah Râdhiin wa Mardhiyyîn.” (Maksud dari ayat ini adalah dirimu dan Syiahmu yang pada hari Kiamat akan memasuki padang Masyhar dalam keadaan ridha dan diridhai oleh Tuhan. (ad-Durrul Mantsur, jil. 6, hal. 379).
  5. As-Suyuthi menukil dalam hadis yang sama dari Ibnu Mardawiyah dari Hadhrat Ali bahwa Rasulullah Saw bersabda kepadaku: “Alam Tasma’ QauluLlah: Innaladzina A^manu wa ‘Amilushalihât Ulaika hum Khairul Bariyyah” Anta wa Syiahtuka wa Mau’idi wa Mau’idukum al-Haudh, Idza Ji’tu al-Umam lil Hisab, Tud’auna Ghurran Muhajjalin. Apakah engkau tidak mendengar firman Allah: (Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shaleh mereka adalah sebaik-baik mahkluk)? (yang dimaksud) Adalah engkau dan Syiahmu. Tempat perjanjian antara diriku dan dirimu adalah di telaga Kautsar. Tatkala aku datang untuk menghisab seluruh umat, engkau akan dipanggil sementara keningmu putih dan telah dikenal. (Idem).

Dan banyak lagi dari ulama Sunni dengan redaksi yang sama menukil hadis ini dalam kitab-kitab mereka semisal: Khatib Khawarazmi dalam Manaqib, Abu Nu’aim Isfahani dalam Kifayatul Khisham, dan Thabari dalam Tafsir-nya, Ibnu Shibagh al-Maliki dalam Fushulul Muhimmah, dan Allamah Syaukani dalam Fathul Ghadir dan Syaikh Sulaiman al-Qunduzi dalam Yanabi’ul Mawaddah, dan Alusi dalam Ruhul Ma’ani ketika mereka menafsirkan ayat yang dimaksud di atas. Silahkan Anda merujuk kepada kitab-kitab yang disebutkan di sana untuk membuktikan klaim ini.

Dari hadis-hadis nabawi yang dinukil dari kitab-kitab terdepan Sunni tentang sejarah kemunculan Syiah dapat dikatakan dengan tegas bahwa Syiah telah muncul semenjak masa Rasulullah Saw dan melalui lisan beliaulah Syiah diperkenalkan kepada umat.

Check Also

Al-Ghadir dalam Persepsi Ibn Taimiyah

Hadist Al-Ghadir adalah hadist mutawatir yang diakui oleh sunnah maupun Syiah. Bahkan Syamsuddin Al-Dzahabi sang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *