Breaking News

Melatih Diri untuk Hidup di Masa IMAM ZAMAN as

kita telah merasa senang dan gembira di masa kegaiban ini  dan kita telah terbiasa dengan kegelapan dan kezaliman yang ada didalamnya.

KEBIASAAN” meruapakan suatu kekuatan yang amat kuat dalam menyeret manusia menuju kebaikan ataupun keburukan.

KEBIASAAN” dan rutinitas seseorang terhadap sesuatu perkara adalah bagaikan suatu pekara yang bersifat fitriah dan alamiah, yang menyeret manusia padanya, dalam bentuk seakan-akan mencabut kebebasan manusia dalam menentukan kehendak dan pilihan.

ALLAH SWT menempatkan kekuatan “KEBIASAAN” ini dalam diri manusia, sehingga dengan “membiasakan diri pada berbagai KEBAIKAN, maka dengan sendirinya manusia akan tertarik padanya dan menjauhkan diri dari berbagai keburukan.

Karena inilah, maka IMAM ALI bin ABI THALIB as menyebut “KEBIASAAN” sebagai watak kedua manusia.

BELIAU berkata;

“KEBIASAAN” adalah WATAK kedua”

Kalimat singkat ini memiliki berbagai poin tinggi dari berbagai hakikat. Karena itu, berdasarkan riwayat ini, sebagaimana manusia berjalan menuju berbagai keinginan dan tuntutan fitriah dan alamiahnya, juga berjalan menuju berbagai “KEBIASAAN” dan “KECENDERUNGAN” yang telah menjadi kebiasaannya.

Manusia harus memanfaatkan kekuatan besar dari “KEBIASAAN” ini di jalan yang benar dan tujuan yang mulia, serta menghindarkan diri dari mencemari diri sendiri dengan berbagai kebiasaan yang hina dan menyimpang.

Berbagai “KEBIASAAN SOSIAL”  merupakan suatu kekuatan melebihi kekuatan kebiasaan-kebiasaan individu dan lebih mudah menyeret manusia ke arah sesuatu yang merupakan kebiasaan sosial.

Diantara kebiasaan sosial yang buruk yang telah menyeret masyarakat kita menuju padanya dan terbelenggu padanya adalah larut dalam KESENANGAN dan KESEDIHAN  yang ada sekarang ini, serta tidak memikirkan masa depan yang lebih cerah, indah dan penuh bahagia.

RASULULLAH saww dan AHLULBAIT, dengan menjelaskan makna “PENANTIAN” dan mendorong manusia menuju padanya, hendak menyadarkan manusia agar tidak tersesat dan larut dalam kesenangan ataupun kesedihan. Dengan menjelaskan masalah “PENANTIAN” BELIAU mengajak mereka untuk memiliki harapan dan berjalan menuju masa depan yang penuh kebahagiaan dan keberhasilan.

Jika seseorang mampu membuang berbagai “KEBIASAAN” yang tercela dan menghiasi diri dengan berbagai sifat yang MULIA, maka ia akan meraih berbagai derajat yang TINGGI.

AMIRUL MUKMININ ALI bin ABI THALIB as berkata;

“Untuk sampai pada berbagai derajat yang MULIA, harus dilakukan dengan mengalahkan berbagai “KEBIASAAN”.

Jika masyarakat kita menciptakan suasana PENANTIAN dan berdoa untuk kehadiran Sang PENYELAMAT dunia, IMAM MAHDI as, maka mereka akan mampu membuang kelalaian terhadap kegelapan di masa kegaiban yang telah menjadi suatu kebiasaan.

Kemudia dengn perantaraan DOA dari hati dan jiwa memohon agar ALLAH Swt menyegerakan berdirinya pemerintahan ADIL IMAM ZAMAN as.

Syarh Ghurar al-Hikam 3/229 dan 1/189 { Al-Shahifah Al-Mahdiyah }

Check Also

Tangisan Isa as di Tanah Karbala

Pada hari Asyura, bukan saja umat islam yang berziarah ke Karbala, namun juga terdapat sekelompok …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *