Breaking News

Kilas Balik Murtadha Muthahhari

Dalam pandangannya intelektuasasi adalah hal penting yang harus ditanamkan dalam diri setiap umat Islam. Bahwa Muthahari melihat bahwa berfikir, melakukan perenungan, dan pemahaman intelektual adalah tujuan hidup seorang muslim. Dan jelasnya, intelektualisasi dalam kacamata Muthahhari adalah sebuah jalan yang tidak bertentangan dengan agama atau wahyu. Dalam hal ini Muthahari nampak berbeda pandang dengan para filosof terdahulu, seperti al-Farabi (870-950), Ibnu Sina (980-1037), dan Ibnu Rusyd (1126-1198) yang melihat bahwa filsafat memiliki hakikat kebenaran yang berdiri sendiri selain adanya kebenaran agama. Berbeda dengan mereka Muthahhari antara keduanya tidaklah ada secara terpisah.

Ketika para filosof sibuk dengan upaya untuk memadukan filsafat dan agama, maka Muthahhari cukup menyatakan bahwa filsafat adalah alat dan metode dalam praktek berfikir yang digunakan untuk memahami dasar agama.

Mungkin Muthahhari jenuh melihat “pertikaian” berlarut antara dua kubu pendukung agama dan filsafat (akal dan wahyu), padahal jelas-jelas menurut dia antara keduanya tak perlu di-dikotomikan sedemikain rupa. Di dalam al-Qur’an pun menurut Muthahhari berulang kali memerintahkan manusia untuk mengaktifkan nalarnya. Seperti dalam surat 8:22) bahwa Allah berfirman bahwa; “Sesungguhnya makhluk yang paling rendah bagi Allah adalah orang-orang yang tuli, bisu, serta tidak bernalar.” (Muthahhari, 1986: hal. 39). Dikotomi antara akal dan wahyu yang selam ini terjadi haruslah dihilangkan, tantang zaman ke depan akan nampak lebih berat. Dan lagi-lagi Muthahari menekankan pada tujuan hidup seorang muslim, yaitu intelektualisasi pada diri mereka untuk dapat mewujudkannya.

Isu menarik terkait Muthahhari dalam kacamata kemodernan adalah kritiknya terhadap marxisme dan materialisme. Muthahhari sendiri mulai membaca karya-karya marxis ketika ia ada di Qum, mulai tahun 1946, melalui literatur-literatur yang diterbitkan partai Tudeh. Yang kala itu gencar menyebarkan paham marxisme di Iran. Melihat sepak terjang kaum Marxis dan kegagalan-kegagalan yang dialami mereka, menurut Muthahhari paham ini tidaklah sesuai dengan Islam. Selain marxisme, materialisme juga menjadi arus penting yang juga mendiami khazanah pikiran orang-orang di Iran. Tentang materialisme di sini menurut Muthahhari adalah pendapat yang menegaskan bahwa tidak ada satu wujud di alam ini kecuali bermetamorfosis dan terikat dengan ruang dan waktu, jelas ini segala sesuatu yang bersifat materi.(Muthahhari, 2001:18). Dan lagi-lagi ini tidaklah sesuai dengan Islam, bahkan agama-agama di dunia. Oleh karena itu Muthahhari menegaskan bahwa Islamlah yang dapat menjadi jalan tepat, yang oleh Dr. Haidar Bagir dikatakan sebagai sebuah pandangan yang dipertanggung jawabkan.

Namun terlebih dahulu, pertama, umat Islam harus melakukan intelektualisasi pada dirinya, selain juga tidak meninggalkan petunjuk-petunjuk agamanya. Dan yang kedua, masih menurut Dr. Haidar Bagir bahwa Muthahhari melihat bahwa umat Islam harus memunculkan juga kesadaran akan perlunya suatu landasan yang kuat dan koheren bagi pembangunan sistem-sistem Islam di berbagai bidang kehidupan, termasuk di dalamnya sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial, dan sebagainya.

Check Also

Rektor IAIN: Banyak Titik Temu Sunni (NU) dan Syiah

Video: IAIN Purwokerto diharapkan bisa menjadi Baitul Hikmah, House of Wisdom, atau Rumah Kebajikan. Fitnah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *