Tentang Kebodohan
Tentang Kebodohan, Imam Ali as berkata, "Musibah terbesar adalah kebodohan." (Kanz al-Ummal, jilid 13, hal 151, hadis 36472)

Pandangan Imam Ali as Tentang Kebodohan

Pandangan Imam Ali as Tentang Kebodohan

Tentang Kebodohan, Imam Ali as berkata, “Musibah terbesar adalah kebodohan.” (Kanz al-Ummal, jilid 13, hal 151, hadis 36472)

Imam Ali as berkata, “Tidak ada agama dan kepercayaan yang akan tumbuh dengan orang-orang bodoh.” (Kanz al-Ummal, jilid 13, hal 151, hadis 36472)

Imam Ali as berkata, “Betapa banyak orang mulia yang dihinakan oleh kebodohannya.” (khutbah 184)

Beliau juga berkata, “Akal menunjuki dan menyelamatkan, tapi kebodohan menyesatkan dan membinasakan.” (khutbah 184) 

Imam Ali as berkata, “Kebodohan merupakan pusat segala keburukan.”(Nahjul Fashahah, hadis 781)

Imam Ali as secara gamblang menjelaskan, “Ilmu adalah pembunuh kebodohan.” (At-Tauhid, hal 127

Imam Ali as berkata, “Seandainya tidak ada lima sifat ini, niscara seluruh manusia menjadi orang saleh; merasa puas dengan kebodohan, rakus akan dunia, kikir akan kelebihan yang dimiliki, riya dalam beramal, berbangga diri.” (Ghurar al-Hikam, jilid 2, hal 451, hadis 3260)

Imam Ali as berkata, “Kebodohan membunuh orang yang hidup dan mengekalkan kesulitan.” (Ghurar al-Hikam, hadis 1464)

Imam Ali as berkata, “Zakatnya akal adalah menanggung orang-orang bodoh.”
(at-Tauhid, hal 127)

Imam Ali as berkata, “Barangsiapa yang banyak bergurau akan dianggap orang bodoh.” (Ghurar al-Hikam, jilid 5, hal 183, hadis 7883)

Imam Ali as berkata, “Kejujuran adalah kemuliaan dan kebodohan adalah kehinaan.” (Tuhaf al-Uqul, hal 356)

Imam Ali as berkata, “Engkau tidak akan melihat orang bodoh kecuali memiliki sifat ekstrim lebih atau kurang.” (al-Nihayah, jilid 3, hal 435)

Imam Ali as berkata, “Tidak ada kekayaan seperti akal, tidak ada kemiskinan seperti kebodohan, tidak ada peninggalan seperti adab dan tidak ada dukungan seperti musyawarah.” (Tuhaf al-Uqul, hal 89)

Imam Ali as berkata, “Betapa banyak orang pintar yang dibunuh oleh kebodohannya, padahal ia bersama ilmunya, tapi tidak memberi manfaat kepadanya.” (al-Irsyad, hal 144)

~**~

Kedengarannya rada aneh tetapi kenyataannya memang demikian, bahwa lebih susah untuk mengingatkan, memberitahu, dan meyakinkan orang-orang yang sedang dibodohi, ketimbang membodohi mereka. Baca juga: MENGAPA AKU TERKAGUM KEPADA KEAGUNGAN IMAM ALI?

Orang-orang yang sudah memiliki gelar kesarjanaan atau jabatan yang paling top atau kekayaan serta status sosial yang tinggi, biasanya paling sulit menerima kenyataan bahwa​ diri mereka sedang dibodohi.

Sedemkian rupa sulitnya, bahkan pihak yang berusaha memberikan pencerahan dan peringatan beresiko dikuyo-kuyo dan dimusuhi, bahkan dicelakai. Baca juga: Pesan Imam Ali as tentang Persahabatan

Di masyarakat kita sekarang fenomena seperti itu sedang marak. Sehingga ketika ada seorang yang memberikan peringatan kepada masyarakat agar tidak mau dibohongi para politisi dengan memakai dalih dan wacana agama, maka justru orang tersebut​ dianggap penista agama dan rame-rame dihujat serta dituntut agar dibui serta diberhentikan dr jabatan.

Sementara orang-orang yang menghasut dan menyebarkan kebencian malah dipuja-puji dan dianggap mulia.

Yang disebut terakhir ini jelas lebih mudah kerjanya dibandingkan dengan orang yang berusaha mengingatkan tadi.

Ironis, tetapi itulah salah satu kenyataan hidup yang mesti kita cermati dan pahami dengan baik.

@tafsirhikmah

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *