Breaking News

Fiqih Syiah Thaharah (1) : Air

Di dalam fikih agama Islam, selain terdapat kebersihan dan kesucian yang senantiasa merupakan hal yang terpuji, terdapat pula jenis pensucian yang khas (yaitu wudhu dan mandi) yang disebut pula dengan thaharah, dimana kadangkala memiliki hukum wajib dan kadangkala mustahab. Hukum-hukum thaharah, segala sesuatu yang mensucikan, tata cara pensucian tubuh, pakaian dan benda- benda lainnya, demikian juga segala sesuatu yang najis dan tidak suci, dan segala hal yang berkaitan dengan persoalan ini, akan dijelaskan dalam bab thaharah ini. Mari kita mulai dengan pembahasan “Air”.

AIR

JENIS-JENIS AIR

Air terbagi dalam dua jenis, yaitu:

  1. Air mudhaf, dan
  1. Air murni, yang terbagi dalam
  • air hujan
  • air mengalir
  • air tidak mengalir (tergenang), yang terbagi dalam: air kur,  air sedikit

 

 Air Mudhaf

1. Makna Air Mudhaf

Yang dimaksud dengan air mudhaf adalah air yang kepadanya tidak bisa dikatakan sebagai air dengan sendirinya tanpa adanya kaidah dan penambahan. Air ini bisa berupa air yang diambil dari sesuatu seperti air semangka, air mawar dan sepertinya, atau air yang bercampur dengan sesuatu sehingga  tidak  bisa  lagi  dikatakan  sebagai  air,  seperti  air sirup, air garam dan sepertinya.

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 2)

2. Hukum-hukum Air Mudhaf

  1. Air mudhaf tidak mensucikan sesuatu yang najis.
  2. Air ini akan  menjadi  najis  ketika  bertemu  dengan najasah (meskipun najisnya hanya sedikit dan tidak merubah bau, warna atau rasa air, dan meskipun air mudhaf tersebut seukuran kur).
  3. Wudhu dan mandi dengan air mudhaf adalah

(Ajwibah al-Istifta’at, no. 74 dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 1)

 

Perhatian:

Kadangkala ke dalam air ditambahkan bahan yang menyebabkan air berubah warna seperti susu, air ini tidak memiliki  hukum  mudhaf  (oleh  karena  itu  bisa  digunakan untuk   mensucikan   sesuatu   yang   najis   dan   bisa   pula digunakan untuk mandi dan wudhu).

(Ajwibah al-Istifta’at, no. 77)

 

Air Murni (Mutlak)

1. Makna Air Murni

Yang dimaksud dengan air murni adalah air yang kepadanya bisa dikatakan sebagai air secara mandiri tanpa adanya kaidah dan syarat, seperti air hujan, air sumber (air yang bersumber dari mata air) dan yang sepertinya.

(Ajwibah al-Istifta’at, no. 74 dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 1)

2. Jenis-jenis Air Murni

Air murni terbagi dalam tiga jenis:

Jenis pertama adalah air yang tercurah dari langit (air hujan), jenis kedua adalah air yang terpancar dari dalam tanah (air mengalir), dan jenis ketiga adalah air yang tidak tercurah dari langit  dan  tidak  pula  terpancar  dari  dalam  tanah  (airtergenang), dimana air jenis ketiga ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu air kur (kira-kira sebanyak 384 liter) dan air sedikit atau qalil (kurang dari 384 liter)

Perhatian:

Air bisa tercurah dari langit, terpancar dari dalam tanah (yaitu  sumbernya  berada  di  bawah  tanah),  atau  tidak tercurah  dari  langit  dan  tidak  pula  terpancar  dari  dalam tanah. Untuk air yang tercurah dari langit disebut air hujan, air yang terpancar dari dalam tanah disebut air mengalir, sedangkan air yang tidak tercurah dari langit dan tidak pula terpancar dari dalam tanah disebut air tergenang, dimana bila volumenya mencapai 42 7/8 jengkal (kira-kira 348 liter) maka dikatakan sebagai air kur dan bila kurang dari ukuran tersebut dikatakan sebagai air sedikit.

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 2)

3. Hukum-hukum Air Murni

  1. Air murni mensucikan sesuatu yang
  1. Air murni (selain air sedikit), ketika bertemu dengan najasah (najis-najis), selama ia tidak terpengaruh oleh bau, warna atau rasa dari najasah, maka hukumnya suci.
  2. Wudhu dan mandi dengan air murni adalah b

(Ajwibah al-Istifta’at, no. 74, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 1)

Perhatian:

Tolok ukur untuk memberlakukan konsekuensi- konsekuensi syar’i bagi air murni adalah opini masyarakat setempat („urf), oleh karena itu bila kekentalan air hanya disebabkan oleh tingkat kandungan garam, hal ini tidak bisa membuatnya keluar dari kategori air murni, karenanya air laut yang kental dikarenakan tingkat kandungan garamnya yang tinggi seperti yang terdapat di danau Urumiyeh (Iran) bisa digunakan untuk mensucikan sesuatu yang najis dan bisa pula digunakan untuk berwudhu dan mandi.

(Ajwibah al-Istifta’at, no. 74)

4. Hukum-hukum dari Jenis-jenis Air Murni

  1. Air Hujan

Air  hujan  bila  tercurah  pada  sesuatu  yang  mutanajjis (terkena najis), akan mensucikannya.

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 2)

 

  1. Air Kur dan Air Mengalir

Bila sesuatu yang terkena najis dibenamkan ke dalam air kur atau air men galir, maka selain akan mensucikannya,menjadi najis. air itu sendiri pun tidak akan

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 2)

Jika air kur atau air mengalir mengalami perubahan bau, warna dan rasa karena dituangkannya sesuatu yang najis ke dalamnya, maka air ini akan menjadi najis, dengan  demikian,   berarti   ia   tidak   bisa mensucikan segala sesuatu yang najis (mutanajjis).

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 4)

Perhatian:

Tidak ada perbedaan antara air kur dan air mengalir dalam masalah mensucikan.

(Ajwabatu al-Istifta’, no. 78)

  1. Air Sedikit (qalil)

Sesuatu yang najis  bila  dimasukkan  ke  dalam  air sedikit, akan menjadikannya najis, dan air ini tidak akan mensucikan sesuatu yang telah najis (mutanajjis).

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 2)

Bila air sedikit dituangkan di atas sesuatu yang najis, maka air ini akan mensucikannya, akan tetapi air yang mengalir setelah dituangkan di atas najis, adalah najis.

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 3)

Air sedikit yang mengalir ke bawah tanpa tekanan dan bagian bawahnya bertemu dengan najasah, bila dapat dikatakan bahwa air tersebut mengalir dari atas ke bawah, maka bagian atas dari air tersebut tetap suci.

(Ajwibah al-Istifta’at, no. 70)

Air sedikit, bila bersambung dengan air mengalir atau air kur, akan berada dalam hukum air kur atau air meng

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 6)

 

HUKUM-HUKUM RAGU DALAM MASALAH AIR

Air yang tidak kita ketahui sebagai air suci atau air najis, secara syar’i dihukumi sebagai air suci, akan tetapi air yang tadinya najis dan kita tidak mengetahui setelah itu telah berubah menjadi air yang suci ataukah belum, berada dalam hukum n

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 6)

Air yang tadinya  seukuran  kur,  bila  seseorang  ragu apakah air  tersebut  telah  berkurang  dari  ukurannya semula ataukah belum, tetap berada dalam hukum air kur.

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 5)

Perhatian:

Untuk  memberlakukan  hukum-hukum  air  kur, seseorang tidak perlu harus mengetahui dengan pasti bahwa air tersebut adalah air kur, melainkan dengan telah bisa memastikan bahwa keadaan sebelumnya adalah kur, maka diperbolehkan untuk tetap menganggapnya seperti keadaan semula (misalnya jika kita mengetahui bahwa air yang ada di toilet-toilet kereta api dan selainnya sebelumnya seukuran kur atau lebih, lalu kita ragu apakah air tersebut telah berkurang dari ukurannya semula ataukah belum, maka kita bisa tetap menganggapnya sebagai air kur).

(Ajwibah al-Istifta’at, no. 70)

Air yang sebelumnya kurang dari ukuran kur, selama seseorang belum   yakin   bahwa   air   tersebut   telah mencapai ukuran kur, tetap memiliki hukum air sedikit.

(Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Thaharah masalah 5)

 

Sumber : Buku “FIKIH PRAKTIS : KUMPULAN FATWA-FATWA Ayatullah al-Uzhma Ali Khamenei”, Penerjemah : Endang Z. Susilawati

Check Also

SIAPA YANG LAYAK MENYANDANG GELAR HAJI

  Ada 2,7 juta jamaah Haji, ada 8 juta jamaah Umroh tiap tahun Berapa biaya …

One comment

  1. Salam,

    Ada beberapa kalimat yang belum selesai, tolong diperbaiki,
    agar jelas maksudnya.

    Syukron.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *