Breaking News

Bagaimana Setan Dibelenggu Di Bulan Ramadhan?

Dalam sebagian besar hadis yang berkenaan dengannya, sudah seringkali diisyaratkan bahwasanya setan dibelenggu pada bulan Ramadan. Dalam kaitan ini, muncul beberapa pertanyaan berikut Apakah setan itu? Dalam wilayah sistem kekhalifahan dan eksistensi yang dipenuhi dengan hikmah, mengapa setan diizinkan untuk menyesatkan manusia? Sampai di manakah wilayah kekuatan setan dalam diri manusia? Kenapa Allah menjadikan setan terbelenggu dan mencegahnya menebarkan pengaruh kesesatannya pada bulan Ramadan, sementara pada saat yang sama Allah memberikan kebebasan pada bulan-bulan lainnya?

Terakhir, jika riwayat-riwayat yang menunjukkan hal ini benar adanya, mengapa sejumlah orang-orang yang berpuasa terjerumus ke dalam perbuatan dosa dan melakukan kesalahan-kesalahan sepanjang bulan Ramadan ini?

Sebenarnya, jawaban atas pertanyaan ini memerlukan jawaban panjang-lebar dan kesempatan yang luas. Meski demikian, dapat dikatakan secara umum bahwasanya pandangan lslam mengartikan setan sebagai sebuah kata bagi maujud-maujud tidak kasat mata yang berasal dari bangsa jin. Dia diberi kekuatan pikiran dan pengetahuan serta kebebasan dan kekuatan memilih (ikhtiar). Namun kemudian, mereka menyalahgunakan kebebasannya untuk menyesatkan manusia dan menyimpangkannya dari jalan yang lurus dengan cara menampakkan perbuatan-perbuatan buruk menjadi indah, serta melalui cara menyebarluaskannya tanpa mengindahkan aturan syariat.

Adapun mengenai hikmah di balik peran penyesatan yang dimainkan setan dalam tatanan kekhilafahan terletak dalam aktulalisasi karunia-karunia insani yang tersembunyi dan pendidikan manusia sempurna serta upaya mempersiapkannya dalam naungan perlawanan yang ditampakkan menghadapi penyimpangan dan penyesatan ini. Adapun mengenai batasan kekuatan setan atas manusia tidak terbatas hanya sekedar memberi pengaruh dan membisikkan (godaan) saja. Lebih jauh dari itu, setan mengajak pada kejelekan. Meski demikian, kekuatannya tidak sampai memaksa manusia untuk meiaksanakannya.”

Berdasarkan penjelasan ini, hal yang sesungguhnya layak untuk dipelajari terdiri dari dua masalah:

Pertama, pembelengguan dan penahanan setan sepanjang bulan Ramadan. Kedua, pembahasan mengenai faktor-faktor tersembunyi di balik kecenderungan melakukan dosa dan menampakkan dosa pada bulan ini; meskipun pada saat yang sama, setan-setan dibelenggu dan mereka tidak lagi melakukan penyesatan dan penyimpangan.

Pembelengguan dan Penahanan Setan Pada Bulan Ramadhan

Dari kajian dan studi nas-nas Islam, diperoleh adanya dua alasan pembelengguan dan penahanan setan pada bulan Ramadan ini. Faktor kedua sebenarnya adalah perpanjangan dari faktor pertama. Berikut adalah kedua faktor tersebut:

Faktor pertama: Kekebalan Alamiah Puasa

Sedemikian rupa puasa menghilangkan tabiat alamiah yang menjadi tempat berperannya kekuatan setan untuk memberi pengamh dan menyesatkan manusia. Dengan kata lain, tidak terdapat-faktor yang membatasi dan membelenggu setan pada bulan Ramadan selain ibadah puasa itu sendiri. Hal ini dijelaskan oleh sabda Nabi saw berikut, “Setan akan berjalan di tengah anak-anak Adam (manusia) seperti jalannya darah, dan jalannya akan terhalang dengan rasa
lapar.”

Hadis ini menunjukkan bahwa secara alamiah, ibadah puasa akan mencegah kekuatan setan terhadap manusia.

Pengaruhyang dimiliki ibadah puasa tidak hanya terbatas pada pembelengguan setan semata, melainkan juga menjangkau pengontrolan atas nafsu amarah sehingga bisa menghilangkan pengaruhnya dalam diri manusia. lni seperti yang disabdakan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, “Bantuan terbaik kepada jiwa yang tertawan dan tabiatnya yang rusak adalah berlapar-lapar (berpuasa).

Berdasarkan hal ini, semua riwayat yang memuji rasa lapar dan memuja perannya dalam membangun jiwa serta mendidiknya, sesungguhnya ditujukan demi mewujudkan benteng penghalang alamiah yang akan menahan kekuatan setan terhadap manusia dan mencegahnya dari pengaruh dan penyesatan nafsu amarah, selain pula ditujukan untuk membebaskan kekuatan akal manusia dan mengaktualisasikan potensi-potensinya. Kedua hal ini merupakan bobot dari dua hadis berikut.

Dari Rasulullah saw, “Jihadkanlah diridiri kalian dengan rasa lapar dan haus, karena pahala dalam keduanya seperti pahala seorang mujahid di jalan Allah. Rasulullah saw juga bersabda, “Hidupkanlah hati-hati kalian dengan sedikit tertawa dan sediklt kenyang, serta sucikanlah dengan rasa lapar yang suci dan putih.

Faktor kedua: Kasih sayang (Luthf) Allah yang Khusus

Di samping peran alamiah yang dimainkan oleh ibadah puasa kepada orang-orang yang berpuasa, yang diwujudkan dengan menahan kekuatan setan clan mencegah upaya penyesatan mereka, sesungguhnya kegiatan ibadah ini berubah menjadi buml tempat tercurahnya kasih sayang Allah dan keterliputannya terhadap mereka (orang-orang yang berpuasa). Jadi, apa yang diriwayatkan dalam hadis-hadis mengenai pembelengguan dan pemenjaraan setan pada bulan ini merupakan isyarat terhadap pengertian tersebut.

Dengan kata lain, kasih sayang Allah itu tidak sembarangan sehingga membenarkan pertanyaan mengapa Allah Swt tidak mencegah setan dan menciptakan penghalang antara setan dan manusia di bulan~bulan lainnya. lntinya, kemunculan taufik dan kasihsayang llahi serta masulmya seseorang dalam jamuan Ramadan tergantung kepada ikhtiarnya sendiri.

Check Also

Tangisan Isa as di Tanah Karbala

Pada hari Asyura, bukan saja umat islam yang berziarah ke Karbala, namun juga terdapat sekelompok …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *